Sabtu, 30 Mei 2015

Gurindam, Syair, Puisi, & Pantun

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
            Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang mana atas berkat rahmat dan karunia-Nya saya telah di bimbing dalam menuntaskan penulisan Buku “Puisi, Gurindam, Syair,& Pantun”  yang penulis susun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Pendidikan Sejarah. Tak lupa shalawat dan salam kita hadiahkan kepada Nabi akhir zaman Nabi Muhammad SAW.
Penulis mengakui dalam buku yang sederhana ini mungkin banyak sekali terjadi kekurangan sehingga hasilnya jauh dari nama kesempurnaan. Penulis sangat berharap kepada semua pihak untuk kiranya memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.
          Besar harapan penulis dengan terselesaikannya makalah ini dapat menjadi bahan tambahan bagi penilaian guru bidang studi sejarah dan mudah-mudahan isi dari buku penulis ini dapat di ambil manfaatnya oleh semua pihak yang membaca buku ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan buku ini sehingga buku ini terselesaikan.
“Tidak ada gading yang tak retak”, dengan ini penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya karena masih begitu banyak kekurangan disana-sini dalam penyusunan makalah ini.


                                                                                               Terima Kasih,
                                                                                Kumu, 20 Februari 2015


                                                                                              Penulis    




          
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR...........................................................................     i
DAFTAR ISI .........................................................................................    ii
BAB I. PUISI
                 Pengertian Puisi ....................................................................     1
                 Ciri-Ciri Puisi  .......................................................................     2 
                 Unsur-Unsur Puisi ................................................................     4
BAB II. GURINDAM
                 Pengertian Gurindam ............................................................     10
                 Ciri-Ciri Gurindam ................................................................     11           
                 Jenis-Jenis Gurindam ............................................................     12
BAB III. PANTUN
                 Pengertian Pantun .................................................................     20           
                 Jenis-Jenis Pantun .................................................................     22           
BAB IV. SYAIR
                 Pengertian Syair ....................................................................     36
                 Jenis-Jenis Syair ....................................................................     35
DAFTAR PUSTAKA



BAB i puisi

A.PENGERTIAN puisi
001KARIKATUR-25.jpgweb.jpg


Puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya yang dirangkai menjadi suatu bentuk tulisan yang mengandung makna. Puisi juga bisa diartikan sebagai sebuah imajinasi kata yang didapat dari sebuah  pengalaman atau dari sebuah gagasan, dan di susun menggunakan pilihan kata atau bahasa yang berirama dan mengutamakan kualitas estetikanya. Atau menurut Wikipedia, puisi dalah seni tertulis di mana bahasa digunakan  untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya .
Sajak atau puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang sudah tertentu bentuknya, biasanya terjadi dari beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya berdasarkan irama. Puisi  rakyat dapat berbentuk macam-­macam antara lain dapat berbentuk ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, kategori: paparikan dan wawangsalan. Selanjutnya paparikan dibagi menjadi dua : Rarakitan cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat yang berupa mantra.
           Menurut K.H.H. Hidding, pada suku sunda ada semacam  puisi rakyat yang berupa sindiran, orang sunda membaginya menjadi dua dan sesebud.Istilah bahasa Bali untuk puisi rakyat adalah geguritan, adalah cerita puisi rakyat. Kebanyakan tema geguritan adalah percintaan.

b.ciri-ciri puisi

1. Puisi Lama
       Puisi lama mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
       
A.    Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
B.     Disampaikan dari mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
C.     Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah bari tiap bait,   jumlah suku kata maupun irama.
 
Aturan-aturan dalam puisi lama:
   
A.    Jumlah kata dalam 1 baris
B.     Jumlah baris dalam 1 bait
C.     Rima (Persajakan)
D.    Banyak suku kata tiap baris
E.     Irama

Jenis-Jenis puisi lama:

1.      Mantra: berisi ucapan-ucapan yang dipercaya memiliki kekuatan gaib.
2.      Pantun: Puisi yang bersajak a-b-a-b, tiap bait terdiri dari 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 (1-2) baris awal adalah sampiran, 2 (3-4) baris berikutnya sebagai isi.
   
2. Puisi Baru
Puisi baru memiliki ciri-ciri:
A.    Bentuknya rapih dan simetris.
B.     Mempunyai persajakan akhir yang teratur.
C.     Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain.
D.    Sebagian besar puisi 4 seuntai.
E.     Tiap-tiap barisnya atas sebuah gastra.
F.      Tiap gatranya terdiri atas 2 kata. Sebagian besar setiap kata menggunakan 4-5 suku kata.

Jenis-jenis puisi baru menurut :
A.    Isinya:
1.        Balada: berisi cerita.
2.        Himne: berisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau  pahlawan.
3.        Ode: Puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
4.        Epigram: berisi tuntunan/ ajaran hidup.
5.        Romansa: berisi luapan perasaan cinta kasih.
6.        Elegi: berisi perasaan kesedihan.
7.        Satire: berisi sindiran/kritik.

B.     Bentuknya:
1.        Distikon: Tiap baitnya terdiri 2 baris (2 seuntai).
2.        Terzina: Tiap baitnya terdiri 3 baris (3 seuntai)
3.        Kuatrain: Tiap baitnya terdiri 4 baris (4 seuntai).
4.        Kuint: Tiap baitnya terdiri 5 baris (5 seuntai).
5.        Sektet: Tiap baitnya terdiri 6 baris (6 seuntai).
6.        Septime: Tiap baitnya terdiri 7 baris (7 seuntai).
7.        Okatf/Stanza: Tiap baitnya terdiri 8 baris (8 seuntai).
8.        Soneta: Puisi yang terdiri dari 14 baris yang terbagi 2.

c.unsur-unsur puisi

Berikut ini unsur - unsur puisi yang merangkai  keindahan  sebuah  karya sastra puisi tersebut  :
1.      Diksi           
          Merupakan pilihan kata yang membangun rangkaian metafor. Pilihan kata yang baik merupakan pilihan kata yang menopang kekuatan kata sebelumnya. Kata - kata yang segar, baru dan unik akan semakin memperindah sebuah diksi.
2.      Metafor
           Merupakan bentuk perumpamaan yang disajikan dalam melukiskan suatu maksud dalam puisi. Misalnya seseorang yang ingin mengibaratkan usia seseorang yang tidak kekal, ia memilih daun sebagai metafor kefanaan. Daun pada mulanya kuncup, hijau, kuning, tua dan mati. Seperti itu jugalah usia dari manusia.
3.      Citraan
           Bisa bersifat rabaa, pendengaran, penglihatan  & sebagainya.
4.      Tipografi
           Merupakan bentuk sajian bait perbait dari sebuah puisi. Apakah ditulis lurus, zig - zag, membentuk prosa dan sebagainya.
                                                                             
Unsur Intrinsik Puisi  :
1.      Tema: Gagasan utama dari puisi.
2.      Tipografi: Tatanan larik,bait,kalimat,frase,kata,dan bunyi.
3.      Amanat: Sesuatu yang ingin disampaikan penyair.
4.      Nada.
5.      Rasa.
6.      Perasaan.
7.      Ennjabemen: Pemotongan kalimat.
8.      Kata konkert: Kata bermakna denotasi.
9.      Diksi: Pilihan kata yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan dalam puisi.
10.  Akulirik: Tokoh laku penyair di dalam puisi.
11.  Rima: Pengindah puisi dalam bentuk pengulangan bunyi baik awal,tengah,maupun akhir.
12.  Majas.


Contoh-Contoh Puisi   :

                                   DENGARKAN SUARA KAMI

Kami hanyalah segerombol kaum bawah
Kaum yang kau anggap sampah
Tak peduli mulut tajammu berkata apa
Kami datang untuk menuntut

Tuntutan yang sebenarnya sepele
Tapi karna terlalu lama tak kau dengar
Semua ini menjadi menggunung
Dan takkan mampu kau selesaikan

Hanya tuan yang bersihlah yang mampu
Mampu membawa suara rakyatmu ini
Suara-suara yang tak kau dengar
Bagai angin berlalu

Ingatlah kau berdiri atas kepercayaan kami
Tak peduli kau ini siapa
Tuan agung kah
Atau tuan tuli
                            100 HARI RAKYAT MU BERBICARA
Seratus hari pemerintahan
Seratus hari rakyat menderita
Seratus hari Indonesia ramai
Seratus hari Indonesia korupsi

Kini makin banyak orang miskin
Kini makin banyak orang menderita
Karena sikap yang begitu menyakitkan
Rakyat kecewa, rakyat sedih
Karena banyak yang tak adil.

                                           HARAPAN RAKYAT
Lihat...
Banyak rakyat melarat
Yang tinggal menunggu malaikat
Yang datang dari akhirat

Dengarlah suara rakyat
Semua pejabat
Yang hanya melihat
Dan tanpa berbuat

Ku ingin mereka merasakan
Perih, pahitnya rakyat rasakan
Di mana keadilan
Di mana kah kejujuran

Seperti surat yang tak terbalas
Rakyat yang tertindas
Mahalnya harga beras
Pergaulan hidup yang keras

Dimana kah pemimpin kita
Katanya setia
Hanya janji palsu saja
Yang dia beri untuk mereka

Katanya peduli
Tapi mana. Apa yang terjadi
Rakyat pada mati
Apa aku tidak frustasi

Pemimpin yang bergelimangan harta
Keliling dunia pakai uang negara
Semua selalu ada bagi mereka
Rakyat hanya berharap percuma

Lihat lah dulu kami
Rakyat kecil yang menunggu janji
Dari para petinggi
Yang melupakan kami

Kenapa kenapa dan kenapa
Apa salah dan dosa mereka
Mereka menjadi hina
Mereka tidak terjama tangan negara

Mereka hanya berdoa
Menunggu semua
terkabulnya doa mereka
yang tak terjama

Tuhan kabuli
Permintaan rakyat negara ini

BAB II.GURINDAM


A.PENGERTIAN GURINDAM


Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu kira – kira tahun 100 Masehi. Kata “gurindam” sendiri berasal dari bahasa Tamil (India) “kirindam” yang berarti perumpamaan atau mula – mula amsal.
Baris pertama berisikan semacam  isyarat, soal, masalah, hal, atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.
Tidak seperti pantun satu bait gurindam hanya terdiri dari 2 larik. kedua larik ini saling berkaitan satu  sama lain. Jadi jika larik pertama adalah sebab maka larik kedua adalah akibat, jika larik pertama adalah pertanyaan maka larik kedua adalah jawaban.

B.CIRI-CIRI GURINDAM

Berikut ini adalah ciri-ciri gurindam:
·         Satu bait terdiri dari 2 larik/baris
·         Jumlah suku kata tiap larik tidak ditentukan (umumnya 10-14 suku kata)
·         Ada hubungan sebab akibat antara larik satu dengan dua
·         Sajak A-A
·         Isi terletah di larik kedua
·         Berisikan nasihat atau kata-kata mutiara
 Contoh gurindam :
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senang hati


C.JENIS-JENIS GURINDAM

Raja Ali Haji merupakan pengarang gurindam yang terkenal dengan karya yang berjudul “Gurindam Dua Belas”. Definisi gurindam menurut Raja Ali Haji adalah syarat dan sajak akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataannya dengan syarat dan sajak yang kedua seperti jawab.
Gurindam dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
1.     Gurindam Berangkai
Yaitu gurindam yang kata pertama dalam baris pertama setiap gurindam adalah  sama.
Contoh :
Cahari olehmu akan sahabat
yang dapat dijadikan obat
 Cahari olehmu akan guru
yang mampu memberi ilmu            
Cahari olehmu akan kawan
yang berbudi serta berkawan 
Cahari olehmu akan abadi
yang terampil serta berbudi

2.     Gurindam Berkait
Yaitu gurindam yang bait pertamanya mempunyai hubungan dengan bait berikutnya.
Contoh :
Sebelum bekerja pikir dahulu
agar pekerjaan selamat selalu
kalau bekerja terburu-buru
tentulah banyak keliru


Contoh Gurindam dan Maknanya

  
             Dan inilah contoh gurindam dua belas yang dibuat oleh Raja Ali Haji seorang sejarah sastrawan sekaligus pahlawan nasional yang meninggal di kepualuan riau. Dan dibwah ini adalah karya beliau dalam
Contoh gurindam dua belas :

Contoh Gurindam I
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.
Contoh Gurindam II
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.
Contoh Gurindam III
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.
Contoh Gurindam IV
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
Contoh Gurindam V
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Contoh Gurindam VI
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,
Contoh Gurindam VII
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.
Contoh Gurindam VIII         
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
Contoh Gurindam IX
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
Contoh Gurindam X
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Contoh Gurindam XI
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujah.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.
Contoh Gurindam XII
Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

Makna dari Contoh Gurindam Dua Belas

Setelah tadi diatas kita tahu, apa saja contoh gurindam. Kita perlu tahu juga dong makna dari contoh gurindam karya Raja Ali Haji tersebut.
Dan inilah beberapa makna dari contoh gurindam kedua belas pasal "Gurindam Dua Belas" tersebut berisi nasihat tentang agama, budi pekerti, pendidikan, moral, dan tingkah laku.
·         Pasal I dan II memberi nasihat tentang agama (religius). 
·         Pasal III tentang budi pekerti, yaitu menahan kata-kata yang tidak perlu dan makan seperlunya.
·         Pasal IV tentang tabiat yang mulia, yang muncul dari hati (nurani) dan akal pikiran (budi). 
·         Pasal V tentang pentingnya pendidikan dan memperluas pergaulan dengan kaum terpelajar. 

·         Pasal VI tentang pergaulan, yang menyarankan untuk mencari sahabat yang baik, demikian pula guru sejati yang dapat mengajarkan mana yang baik dan buruk. 
·         Pasal VII berisi nasihat agar orang tua membangun akhlak dan budi pekerti anak-anaknya sejak kecil dengan sebaik mungkin. Jika tidak, kelak orang tua yang akan repot sendiri. 
·         Pasal VIII berisi nasihat agar orang tidak percaya pada orang yang culas dan tidak berprasangka buruk terhadap seseorang. 
·         Pasal IX berisi nasihat tentang moral pergaulan pria wanita dan tentang pendidikan. Hendaknya dalam pergaulan antara pria wanita ada pengendalian diri dan setiap orang selalu rajin beribadah agar kuat imannya. 
·         Pasal X berisi nasihat keagamaan dan budi pekerti, yaitu kewajiban anak untuk menghormati orang tuanya. 
·         Pasal XI berisi nasihat kepada para pemimpin agar menghindari tindakan yang tercela, berusaha melaksanakan amanat anak buah dalam tugasnya, serta tidak berkhianat. 
·         Pasal XII (terakhir) berisi nasihat keagamaan, agar manusia selalu ingat hari kematian dan kehidupan di akhirat.
.


BAB iII pantun


A.PENGERTIAN pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).

Peran pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata.
Namun, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan  isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

b.jenis-jenis pantun
·         Pantun Adat

Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah
Ikan berenang lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka
Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang di buku buluh
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah bersarang jari sepuluh
Pohon nangka berbuah lebat
Bilalah masak harum juga
Berumpun pusaka berupa adat
Daerah berluhak alam beraja
·         Pantun Agama

Banyak bulan perkara bulan
Tidak semulia bulan puasa
Banyak tuhan perkara tuhan
Tidak semulia Tuhan Yang Esa
Daun terap di atas dulang
Anak udang mati di tuba
Dalam kitab ada terlarang
Yang haram jangan dicoba
Bunga kenanga di atas kubur
Pucuk sari pandan Jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

·         Pantun Budi

Bunga cina di atas batu
Daunnya lepas ke dalam ruang
Adat budaya tidak berlaku
Sebabnya emas budi terbuang
Di antara padi dengan selasih
Yang mana satu tuan luruhkan
Diantara budi dengan kasih
Yang mana satu tuan turutkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sujinya
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Sarat perahu muat pinang
Singgah berlabuh di Kuala Daik
Jahat berlaku lagi dikenang
Inikan pula budi yang baik
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin
Biarlah orang bertanam buluh
Mari kita bertanam padi
Biarlah orang bertanam musuh
Mari kita menanam budi
Ayam jantan si ayam jalak
Jaguh siantan nama diberi
Rezeki tidak saya tolak
Musuh tidak saya cari
Jikalau kita bertanam padi
Senanglah makan adik-beradik
Jikalau kita bertanam budi
Orang yang jahat menjadi baik
Kalau keladi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
Kalau budi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas

·         Pantun Jenaka

Di mana kuang hendak bertelur
Di atas lata di rongga batu
Di mana tuan hendak tidur
Di atas dada di rongga susu
Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada di dalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
Naik ke bukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya
Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palem
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm
Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak
jangan suka makan mentimun
karna banyak getahnya
hai kawan jangan melamun
melamun itu tak ada gunanya
·         Pantun Kepahlawanan

Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kamipun muda lagi perkasa
Hang Jebat Hang Kesturi
Budak-budak raja Melaka
Jika hendak jangan dicuri
Mari kita bertentang mata
Kalau orang menjaring ungka
Rebung seiris akan pengukusnya
Kalau arang tercorong kemuka
Ujung keris akan penghapusnya
Redup bintang haripun subuh
Subuh tiba bintang tak nampak
Hidup pantang mencari musuh
Musuh tiba pantang ditolak
Esa elang kedua belalang
Takkan kayu berbatang jerami
Esa hilang dua terbilang
Takkan Melayu hilang di bumi
·         Pantun Kias
  • Pantun Kias
                   
Ayam sabung jangan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di gunung ikan di laut
Dalam belanga bertemu juga
Berburu ke padang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi
Anak Madras menggetah punai
Punai terbang mengirap bulu
Berapa deras arus sungai
Ditolak pasang balik ke hulu
Kayu tempinis dari kuala
Dibawa orang pergi Melaka
Berapa manis bernama nira
Simpan lama menjadi cuka
Disangka nenas di tengah padang
Rupanya urat jawi-jawi
Disangka panas hingga petang
Kiranya hujan tengah hari
·         Pantun Nasihat
  • Pantun Nasihat
                    
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Kemuning di tengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri
Parang ditetak ke batang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu
Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata
Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak di peti
Sembarang kerja boleh menjadi
Jalan-jalan ke Kota Blitar
jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun
·       Pantun Percintaan

Coba-coba menanam mumbang
Moga-moga tumbuh kelapa
Coba-coba bertanam sayang
Moga-moga menjadi cinta
Jangan suka bermain tali
Kalau tak ingin terikat olehnya
Putus cinta jangan disesali
Pasti kan datang cinta yang lainnya
Limau purut lebat di pangkal
Sayang selasih condong uratnya
Angin ribut dapat ditangkal
Hati yang kasih apa obatnya
Ikan belanak hilir berenang
Burung dara membuat sarang
Makan tak enak tidur tak tenang
Hanya teringat dinda seorang
Anak kera di atas bukit
Dipanah oleh Indera Sakti
Dipandang muka senyum sedikit
Karena sama menaruh hati
Ikan sepat dimasak berlada
Kutunggu digulai anak seberang
Jika tak dapat di masa muda
Kutunggu sampai beranak seorang
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Kirim saya sehelai baju
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi ranting kayu.
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Belikan sahaya pisau lipat
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi benang pengikat
Kalau tuan mencari buah
Sahaya pun mencari pandan
Jikalau tuan menjadi nyawa
Sahaya pun menjadi badan.
  • Pantun Peribahasa
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Ke hulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian
Kerat kerat kayu di ladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul
Harapkan untung menggamit
Kain di badan didedahkan
Harapkan guruh di langit
Air tempayan dicurahkan
Pohon pepaya di dalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan
·         Pantun Perpisahan

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Biar jauh di negeri satu
Hilang di mata di hati jangan
Bagaimana tidak dikenang
Pucuknya pauh selasih Jambi
Bagaimana tidak terkenang
Dagang yang jauh kekasih hati
Duhai selasih janganlah tinggi
Kalaupun tinggi berdaun jangan
Duhai kekasih janganlah pergi
Kalaupun pergi bertahun jangan
Batang selasih mainan budak
Berdaun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Bunga Cina bunga karangan
Tanamlah rapat tepi perigi
Adik di mana abang gerangan
Bilalah dapat bertemu lagi
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi

·       Pantun Teka Teki

Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk di hidung?
Beras ladang sulung tahun
Malam malam memasak nasi
Dalam batang ada daun
Dalam daun ada isi
Terendak bentan lalu dibeli
Untuk pakaian saya turun ke sawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala di bawah ?
Kalau tuan muda teruna
Pakai seluar dengan gayanya
Kalau tuan bijak laksana
Biji di luar apa buahnya
Tugal padi jangan bertangguh
Kunyit kebun siapa galinya
Kalau tuan cerdik sungguh
Langit tergantung mana talinya?










BAB IV SYAIR

 

7216702.jpg

A.PENGERTIAN SYAIR

Syair adalah  salah satu  jenis puisi lama. Ia berasal dari Persia (sekarang Iran) dan telah dibawa masuk ke Nusantara bersama-sama dengan kedatangan Islam.
Kata Syair berasal dari bahasa Arab syu'ur yang berarti perasaan. Kata syu'ur berkembang menjadi kata syi'ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam  perkembangan nya  Syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra Syair di negeri Arab.
Penyair yang berperan besar dalam membentuk Syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri dengan karyanya, antara lain:
Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir.
Ciri-ciri syair  :
1.Setiap bait terdiri atas empat baris.
2.Setiap baris terdiri atas 8 sampai 14 suku kata.
3.Semua baris merupakan isi.
4.Syair bersajak aaaa.
5.Setiap bait syair tidak dapat berdiri sendiri.
6.Biasanya, setiap baris terdiri atas empat kata.

B.JENIS-JENIS SYAIR

Menurut isinya, Syair dapat dibagi menjadi lima golongan, sebagai berikut.
1. Syair Panji
Syair panji menceritakan tentang keadaan yang terjadi dalam istana
dan keadaan orang-orang yang berada atau berasal dari dalam istana.
Contoh Syair panji adalah Syair Ken Tambuhan yang menceritakan tentang
seorang putri bernama Ken Tambuhan yang dijadikan persembahan kepada
Sang Ratu Kauripan.

2. Syair Romantis
           Syair romantis berisi tentang percintaan yang biasanya terdapat pada cerita pelipur lara, hikayat, maupun cerita rakyat.
Contoh Syair romantis yakni Syair Bidasari yang menceritakan tentang seorang putri raja yang telah dibuang ibunya. Setelah beberapa lama ia dicari Putra Bangsawan (saudaranya) untuk bertemu dengan ibunya. Pertemuan pun terjadi dan akhirnya Bidasari memaafkan ibunya, yang telah membuang dirinya.

3. Syair Kiasan         
Syair kiasan berisi tentang percintaan ikan, burung, bunga atau buah buahan. Percintaan tersebut merupakan kiasan atau sindiran terhadap peristiwa tertentu.
Contoh Syair kiasan adalah Syair Burung Pungguk yang isinya menceritaka n tentang percintaan yang gagal akibat perbedaan pangkat, atau seperti perumpamaan "seperti pungguk merindukan bulan".

4. Syair Sejarah
Syair  sejarah adalah  Syair  yang  berdasarkan  peristiwa  sejarah. Sebagian besar Syair  sejarah berisi tentang peperangan.
Contoh  Syair sejarah adalah Syair Perang Mengkasar (dahulu bernama Syair Sipelman), berisi tentang perang antara orang-orang Makasar dengan Belanda.

5. Syair Agama
Syair agama merupakan Syair terpenting. Syair agama dibagi menjadi Empat yaitu:
 (a) Syair sufi
 (b) Syair tentang ajaran Islam
 (c) Syair riwayat cerita nabi
 (d) Syair nasihat.
Perlu di ketahui, setiap Syair pasti mengandung pesan tertentu.
Pesan tersebut dapat di simpulkan setelah memahami isi sebuah Syair.
Contoh-Contoh Syair  :
·         Contoh Syair Kehidupan
Dunia ini sudah tua
jangan sampai kita ikut celaka
mari kita tingkatkan taqwa
kepada Tuhan yang Maha Esa

Allah tempat kita bergantung
agar kita selalu beruntung
jangan sampai kita terpasung
jangan bimbang dan jangan pula bingung

hanya Allah yang selalu di hati
tempat kita untuk berbakti
bermunazat dan bersaksi
sampai akhir kiamat nanti

mari kita perbanyak dzikir
kepada Allah yang Maha Basir
agar kita selalu berpikir
dijauhkan dari sifat kikir

semua manusia kan pasti mati
baik petani ataupun menteri
mari kita bercermin diri
agar kita tak sampai merugi

hidup ini hanya sementara
semua makhluk kan pasti binasa
jangan sampai kita tergoda
oleh tipu daya dunia

dunia ini sudah akhir
jangan sampai kita tergelincir
mari kita terus berdzikir
bersama syekh Abdul Qodir (Syekh Abdul Qodir al-Jaelani)
·         Contoh Syair Pendidikan
Tersusun indah pustaka ini
Tertata rapi buku-buku penuh maknawi
Isi hari dengan berkunjung kesini
Pustaka terbaik di negeri ini

Sejuk nyaman membaca buku
Perpustakaan Soeman Hs gudang ilmu
Seringlah kesana agar dirimu mampu
Membuka semua cakrawala dalam hidupmu

Hatimu resah jangan dibawah gundah
Duduklah sejenak di perpustakaan wilayah
Bekali diri dengan ilmu bermarwah
Kuatkan keterampilan agar terarah

Perpustakaan ini anugerah negeri
Tak pantas jika tak pernah diisi
Ajak semua teman agar menghampiri
Itulah tabiat mulia generasi masa kini

Zaman sekarang persaingan ketat
Tak kuat bersaing bisa melarat
Agar dirimu bisa mampu dan kuat
Perpustakaan bisa menjadi obat

Tak ada didunia ini orang yang bodoh
Kuatkan ilmu agar tetap kokoh
Mulai dengan membaca tokoh-tokoh
Dirimu kelak tak kan mudah roboh

Jangan pernah berputus asa
Semua pasti ada jalannya
Asal niat mu ada didada
Semua cita-cita bisa terlaksana
·         Contoh Syair Melayu Lama
Lalulah berjalan Ken Tambuhan
diiringkah penglipur dengan tadahan
lemah lembut berjalan pelahan-lahan
lakunya manis memberi kasihan

Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri
·         Syair Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul Hamid Syah Paduka Sultan
Duduklah Baginda bersuka-sukaan
              
Abdul Muluk putera Baginda
Besarlah sudah bangsa muda
Cantik menjelis usulnya syahda
Tiga belas tahun umurnya ada

Parasnya elok amat sempurna
Petak majelis bijak laksana
Memberi hati bimbang gulana
Kasih kepadanya mulia dan hina. 




DAFTAR PUSTAKA

Pantun.









                                                                                                      
Buku Gurindam,Syair,Pantun

https://drive.google.com/file/d/0BwvBTgi_KPJvZTlIUUtSRFQxVEk/view?usp=sharing


Tidak ada komentar:

Posting Komentar