KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang mana atas berkat rahmat dan
karunia-Nya saya telah di bimbing dalam menuntaskan penulisan Buku “Puisi,
Gurindam, Syair,& Pantun” yang penulis susun untuk memenuhi salah
satu tugas mata pelajaran Pendidikan Sejarah. Tak lupa shalawat dan salam kita
hadiahkan kepada Nabi akhir zaman Nabi Muhammad SAW.
Penulis
mengakui dalam buku yang sederhana ini mungkin banyak sekali terjadi kekurangan
sehingga hasilnya jauh dari nama kesempurnaan. Penulis sangat berharap kepada
semua pihak untuk kiranya memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Besar harapan penulis dengan terselesaikannya makalah ini dapat menjadi bahan
tambahan bagi penilaian guru bidang studi sejarah dan mudah-mudahan isi dari
buku penulis ini dapat di ambil manfaatnya oleh semua pihak yang membaca buku
ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu
penulis dalam penyusunan buku ini sehingga buku ini terselesaikan.
“Tidak ada gading yang
tak retak”, dengan ini penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya karena masih
begitu banyak kekurangan disana-sini dalam penyusunan makalah ini.
Terima
Kasih,
Kumu,
20 Februari 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR........................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................... ii
BAB I. PUISI
Pengertian Puisi .................................................................... 1
Ciri-Ciri Puisi ....................................................................... 2
Unsur-Unsur
Puisi ................................................................ 4
BAB II. GURINDAM
Pengertian Gurindam ............................................................ 10
Ciri-Ciri Gurindam ................................................................ 11
Jenis-Jenis Gurindam ............................................................ 12
BAB III. PANTUN
Pengertian Pantun ................................................................. 20
Jenis-Jenis Pantun ................................................................. 22
BAB IV. SYAIR
Pengertian Syair .................................................................... 36
Jenis-Jenis Syair .................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA
BAB i puisi
A.PENGERTIAN
puisi
![]() |
Puisi adalah
ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya yang dirangkai menjadi suatu bentuk
tulisan yang mengandung makna. Puisi juga
bisa diartikan sebagai sebuah
imajinasi kata yang didapat dari sebuah pengalaman atau dari sebuah
gagasan, dan di susun menggunakan pilihan kata atau bahasa yang berirama dan
mengutamakan kualitas estetikanya. Atau menurut Wikipedia, puisi dalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk
kualitas estetiknya untuk
tambahan, atau selain arti semantiknya .
Sajak atau puisi
rakyat adalah kesusastraan rakyat yang sudah tertentu bentuknya, biasanya
terjadi dari beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada yang
berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya
berdasarkan irama. Puisi rakyat dapat berbentuk macam-macam antara lain
dapat berbentuk ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, kategori:
paparikan dan wawangsalan. Selanjutnya paparikan dibagi menjadi dua : Rarakitan
cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat yang berupa mantra.
Menurut K.H.H.
Hidding, pada suku sunda ada semacam puisi rakyat yang berupa sindiran, orang sunda
membaginya menjadi dua dan sesebud.Istilah bahasa Bali untuk puisi rakyat
adalah geguritan, adalah cerita puisi rakyat. Kebanyakan tema geguritan adalah
percintaan.
b.ciri-ciri
puisi
1. Puisi Lama
Puisi lama mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
A.
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
B.
Disampaikan
dari mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
C.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah bari tiap bait,
jumlah suku kata maupun irama.
Aturan-aturan dalam puisi
lama:
A.
Jumlah
kata dalam 1 baris
B.
Jumlah
baris dalam 1 bait
C.
Rima
(Persajakan)
D.
Banyak
suku kata tiap baris
E.
Irama
Jenis-Jenis puisi lama:
1. Mantra: berisi ucapan-ucapan yang dipercaya memiliki
kekuatan gaib.
2. Pantun: Puisi yang bersajak a-b-a-b, tiap bait terdiri
dari 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 (1-2) baris awal adalah
sampiran, 2 (3-4) baris berikutnya sebagai isi.
2. Puisi Baru
Puisi
baru memiliki ciri-ciri:
A. Bentuknya rapih dan simetris.
B. Mempunyai persajakan akhir yang teratur.
C. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair
meskipun ada pola yang lain.
D. Sebagian besar puisi 4 seuntai.
E. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gastra.
F. Tiap gatranya terdiri atas 2 kata. Sebagian besar
setiap kata menggunakan 4-5 suku kata.
Jenis-jenis puisi baru menurut :
A. Isinya:
1.
Balada: berisi cerita.
2.
Himne: berisi pujaan
untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
3.
Ode: Puisi sanjungan
untuk orang yang berjasa.
4.
Epigram: berisi tuntunan/
ajaran hidup.
5.
Romansa: berisi luapan
perasaan cinta kasih.
6.
Elegi: berisi perasaan
kesedihan.
7.
Satire: berisi
sindiran/kritik.
B. Bentuknya:
1.
Distikon: Tiap baitnya
terdiri 2 baris (2 seuntai).
2.
Terzina: Tiap baitnya
terdiri 3 baris (3 seuntai)
3.
Kuatrain: Tiap baitnya
terdiri 4 baris (4 seuntai).
4.
Kuint: Tiap baitnya
terdiri 5 baris (5 seuntai).
5.
Sektet: Tiap baitnya
terdiri 6 baris (6 seuntai).
6.
Septime: Tiap baitnya
terdiri 7 baris (7 seuntai).
7.
Okatf/Stanza: Tiap
baitnya terdiri 8 baris (8 seuntai).
8.
Soneta: Puisi yang
terdiri dari 14 baris yang terbagi 2.
c.unsur-unsur
puisi
Berikut
ini unsur - unsur puisi yang merangkai keindahan sebuah
karya sastra puisi tersebut :
1. Diksi
Merupakan pilihan kata yang membangun rangkaian metafor. Pilihan kata yang baik
merupakan pilihan kata yang menopang kekuatan kata sebelumnya. Kata - kata yang
segar, baru dan unik akan semakin memperindah sebuah diksi.
2. Metafor
Merupakan bentuk perumpamaan yang disajikan dalam melukiskan suatu maksud dalam
puisi. Misalnya seseorang yang ingin mengibaratkan usia seseorang yang tidak
kekal, ia memilih daun sebagai metafor kefanaan. Daun pada mulanya kuncup,
hijau, kuning, tua dan mati. Seperti itu jugalah usia dari manusia.
3. Citraan
Bisa bersifat rabaa, pendengaran, penglihatan
& sebagainya.
4. Tipografi
Merupakan bentuk sajian bait perbait dari sebuah puisi.
Apakah ditulis lurus, zig - zag, membentuk prosa dan sebagainya.
Unsur Intrinsik Puisi :
1. Tema: Gagasan utama dari
puisi.
2. Tipografi: Tatanan
larik,bait,kalimat,frase,kata,dan bunyi.
3. Amanat: Sesuatu yang ingin
disampaikan penyair.
4. Nada.
5. Rasa.
6. Perasaan.
7. Ennjabemen: Pemotongan kalimat.
8. Kata konkert: Kata bermakna denotasi.
9. Diksi: Pilihan kata yang dipakai
untuk mengungkapkan perasaan dalam puisi.
10. Akulirik: Tokoh laku penyair di
dalam puisi.
11. Rima: Pengindah puisi dalam
bentuk pengulangan bunyi baik awal,tengah,maupun akhir.
12. Majas.
Contoh-Contoh
Puisi :
DENGARKAN
SUARA KAMI
Kami hanyalah segerombol kaum bawah
Kaum yang kau anggap sampah
Tak peduli mulut tajammu berkata apa
Kami datang untuk menuntut
Tuntutan yang sebenarnya sepele
Tapi karna terlalu lama tak kau dengar
Semua ini menjadi menggunung
Dan takkan mampu kau selesaikan
Hanya tuan yang bersihlah yang mampu
Mampu membawa suara rakyatmu ini
Suara-suara yang tak kau dengar
Bagai angin berlalu
Ingatlah kau berdiri atas kepercayaan kami
Tak peduli kau ini siapa
Tuan agung kah
Atau tuan tuli
Kami hanyalah segerombol kaum bawah
Kaum yang kau anggap sampah
Tak peduli mulut tajammu berkata apa
Kami datang untuk menuntut
Tuntutan yang sebenarnya sepele
Tapi karna terlalu lama tak kau dengar
Semua ini menjadi menggunung
Dan takkan mampu kau selesaikan
Hanya tuan yang bersihlah yang mampu
Mampu membawa suara rakyatmu ini
Suara-suara yang tak kau dengar
Bagai angin berlalu
Ingatlah kau berdiri atas kepercayaan kami
Tak peduli kau ini siapa
Tuan agung kah
Atau tuan tuli
100 HARI RAKYAT MU
BERBICARA
Seratus hari
pemerintahan
Seratus hari
rakyat menderita
Seratus hari
Indonesia ramai
Seratus hari
Indonesia korupsi
Kini makin
banyak orang miskin
Kini makin
banyak orang menderita
Karena sikap
yang begitu menyakitkan
Rakyat kecewa,
rakyat sedih
Karena banyak
yang tak adil.
HARAPAN
RAKYAT
Lihat...
Banyak rakyat melarat
Yang tinggal menunggu malaikat
Yang datang dari akhirat
Dengarlah suara rakyat
Semua pejabat
Yang hanya melihat
Dan tanpa berbuat
Ku ingin mereka merasakan
Perih, pahitnya rakyat rasakan
Di mana keadilan
Di mana kah kejujuran
Seperti surat yang tak terbalas
Rakyat yang tertindas
Mahalnya harga beras
Pergaulan hidup yang keras
Dimana kah pemimpin kita
Katanya setia
Hanya janji palsu saja
Yang dia beri untuk mereka
Katanya peduli
Tapi mana. Apa yang terjadi
Rakyat pada mati
Apa aku tidak frustasi
Pemimpin yang bergelimangan harta
Keliling dunia pakai uang negara
Semua selalu ada bagi mereka
Rakyat hanya berharap percuma
Lihat lah dulu kami
Rakyat kecil yang menunggu janji
Dari para petinggi
Yang melupakan kami
Kenapa kenapa dan kenapa
Apa salah dan dosa mereka
Mereka menjadi hina
Mereka tidak terjama tangan negara
Mereka hanya berdoa
Menunggu semua
terkabulnya doa mereka
yang tak terjama
Tuhan kabuli
Permintaan rakyat negara ini
BAB II.GURINDAM
A.PENGERTIAN
GURINDAM

Gurindam
adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait
terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu
kesatuan yang utuh. Gurindam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang Hindu atau
pengaruh sastra Hindu kira – kira tahun 100 Masehi. Kata “gurindam” sendiri
berasal dari bahasa Tamil (India) “kirindam” yang berarti perumpamaan atau mula
– mula amsal.
Baris
pertama berisikan semacam isyarat, soal,
masalah, hal, atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban atau
akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.
Tidak
seperti pantun satu bait gurindam hanya terdiri dari 2 larik. kedua larik ini
saling berkaitan satu sama lain. Jadi
jika larik pertama adalah sebab maka larik kedua adalah akibat, jika larik
pertama adalah pertanyaan maka larik kedua adalah jawaban.
B.CIRI-CIRI
GURINDAM
Berikut ini adalah ciri-ciri gurindam:
·
Satu bait terdiri
dari 2 larik/baris
·
Jumlah suku kata tiap
larik tidak ditentukan (umumnya 10-14 suku kata)
·
Ada hubungan sebab
akibat antara larik satu dengan dua
·
Sajak A-A
·
Isi terletah di larik
kedua
·
Berisikan nasihat
atau kata-kata mutiara
Contoh gurindam :
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senang hati
C.JENIS-JENIS
GURINDAM
Raja
Ali Haji merupakan pengarang gurindam yang terkenal dengan karya yang berjudul
“Gurindam Dua Belas”. Definisi gurindam menurut Raja Ali Haji adalah syarat dan
sajak akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataannya dengan syarat dan sajak
yang kedua seperti jawab.
Gurindam dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Gurindam
Berangkai
Yaitu
gurindam yang kata pertama dalam baris pertama setiap gurindam adalah sama.
Contoh
:
Cahari
olehmu akan sahabat
yang dapat dijadikan obat
yang dapat dijadikan obat
Cahari
olehmu akan guru
yang mampu memberi ilmu
yang mampu memberi ilmu
Cahari olehmu akan kawan
yang berbudi serta berkawan
yang berbudi serta berkawan
Cahari olehmu akan abadi
yang terampil serta berbudi
yang terampil serta berbudi
2.
Gurindam Berkait
Yaitu gurindam yang bait pertamanya mempunyai hubungan
dengan bait berikutnya.
Contoh :
Sebelum bekerja pikir dahulu
agar pekerjaan selamat selalu
agar pekerjaan selamat selalu
kalau bekerja terburu-buru
tentulah banyak keliru
tentulah banyak keliru
Contoh
Gurindam dan Maknanya
Dan inilah contoh gurindam dua
belas yang dibuat oleh Raja Ali Haji seorang sejarah sastrawan sekaligus
pahlawan nasional yang meninggal di kepualuan riau. Dan dibwah ini adalah karya
beliau dalam
Contoh gurindam dua belas :
Contoh Gurindam I
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.
Contoh Gurindam II
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.
Contoh Gurindam III
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.
Contoh Gurindam IV
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
Contoh Gurindam V
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Contoh Gurindam VI
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,
Contoh Gurindam VII
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.
Contoh Gurindam VIII
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
Contoh Gurindam IX
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
Contoh Gurindam X
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Contoh Gurindam XI
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujah.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujah.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.
Contoh Gurindam XII
Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.
Makna dari Contoh Gurindam Dua Belas
Setelah tadi diatas kita tahu, apa
saja contoh gurindam. Kita perlu tahu juga dong makna dari contoh gurindam
karya Raja Ali Haji tersebut.
Dan inilah beberapa makna dari contoh gurindam kedua belas pasal "Gurindam Dua Belas" tersebut berisi nasihat tentang agama, budi pekerti, pendidikan, moral, dan tingkah laku.
Dan inilah beberapa makna dari contoh gurindam kedua belas pasal "Gurindam Dua Belas" tersebut berisi nasihat tentang agama, budi pekerti, pendidikan, moral, dan tingkah laku.
·
Pasal I dan II memberi nasihat tentang agama
(religius).
·
Pasal III tentang budi pekerti, yaitu menahan
kata-kata yang tidak perlu dan makan seperlunya.
·
Pasal IV tentang tabiat yang mulia, yang
muncul dari hati (nurani) dan akal pikiran (budi).
·
Pasal V tentang pentingnya pendidikan dan
memperluas pergaulan dengan kaum terpelajar.
·
Pasal VI tentang pergaulan, yang menyarankan
untuk mencari sahabat yang baik, demikian pula guru sejati yang dapat
mengajarkan mana yang baik dan buruk.
·
Pasal VII berisi nasihat agar orang tua
membangun akhlak dan budi pekerti anak-anaknya sejak kecil dengan sebaik
mungkin. Jika tidak, kelak orang tua yang akan repot sendiri.
·
Pasal VIII berisi nasihat agar orang tidak
percaya pada orang yang culas dan tidak berprasangka buruk terhadap seseorang.
·
Pasal IX berisi nasihat tentang moral
pergaulan pria wanita dan tentang pendidikan. Hendaknya dalam pergaulan antara
pria wanita ada pengendalian diri dan setiap orang selalu rajin beribadah agar
kuat imannya.
·
Pasal X berisi nasihat keagamaan dan budi
pekerti, yaitu kewajiban anak untuk menghormati orang tuanya.
·
Pasal XI berisi nasihat kepada para pemimpin
agar menghindari tindakan yang tercela, berusaha melaksanakan amanat anak buah
dalam tugasnya, serta tidak berkhianat.
·
Pasal XII (terakhir) berisi nasihat keagamaan,
agar manusia selalu ingat hari kematian dan kehidupan di akhirat.
.
BAB iII pantun
A.PENGERTIAN
pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa
Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun".
Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan,
dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan
dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun
terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris
terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a
(tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan
namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua
bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama,
kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya),
dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud
selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang
merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun,
dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun
"versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah
"versi panjang" (enam baris atau lebih).
Peran
pantun
Sebagai alat
pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun
melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih
orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata
yang lain.
Secara sosial pantun
memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda
sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan
seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata.
Namun, secara umum peran sosial pantun adalah
sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Struktur
pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi
sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar
memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi
kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan
dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya
terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.
b.jenis-jenis
pantun
·
Pantun Adat
Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah
Ikan berenang lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka
Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang di buku buluh
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah bersarang jari sepuluh
Pohon nangka berbuah lebat
Bilalah masak harum juga
Berumpun pusaka berupa adat
Daerah berluhak alam beraja
·
Pantun Agama
Banyak bulan perkara bulan
Tidak semulia bulan puasa
Banyak tuhan perkara tuhan
Tidak semulia Tuhan Yang Esa
Daun terap di atas dulang
Anak udang mati di tuba
Dalam kitab ada terlarang
Yang haram jangan dicoba
Bunga kenanga di atas kubur
Pucuk sari pandan Jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
·
Pantun Budi
Bunga cina di atas batu
Daunnya lepas ke dalam ruang
Adat budaya tidak berlaku
Sebabnya emas budi terbuang
Di antara padi dengan selasih
Yang mana satu tuan luruhkan
Diantara budi dengan kasih
Yang mana satu tuan turutkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sujinya
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Sarat perahu muat pinang
Singgah berlabuh di Kuala Daik
Jahat berlaku lagi dikenang
Inikan pula budi yang baik
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin
Biarlah orang bertanam buluh
Mari kita bertanam padi
Biarlah orang bertanam musuh
Mari kita menanam budi
Ayam jantan si ayam jalak
Jaguh siantan nama diberi
Rezeki tidak saya tolak
Musuh tidak saya cari
Jikalau kita bertanam padi
Senanglah makan adik-beradik
Jikalau kita bertanam budi
Orang yang jahat menjadi baik
Kalau keladi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
Kalau budi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
·
Pantun Jenaka
Di mana kuang hendak bertelur
Di atas lata di rongga batu
Di mana tuan hendak tidur
Di atas dada di rongga susu
Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada di dalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
Naik ke bukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya
Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palem
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm
Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak
jangan suka makan mentimun
karna banyak getahnya
hai kawan jangan melamun
melamun itu tak ada gunanya
·
Pantun Kepahlawanan
Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kamipun muda lagi perkasa
Hang Jebat Hang Kesturi
Budak-budak raja Melaka
Jika hendak jangan dicuri
Mari kita bertentang mata
Kalau orang menjaring ungka
Rebung seiris akan pengukusnya
Kalau arang tercorong kemuka
Ujung keris akan penghapusnya
Redup bintang haripun subuh
Subuh tiba bintang tak nampak
Hidup pantang mencari musuh
Musuh tiba pantang ditolak
Esa elang kedua belalang
Takkan kayu berbatang jerami
Esa hilang dua terbilang
Takkan Melayu hilang di bumi
·
Pantun Kias
- Pantun Kias
Ayam sabung jangan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di gunung ikan di laut
Dalam belanga bertemu juga
Berburu ke padang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi
Anak Madras menggetah punai
Punai terbang mengirap bulu
Berapa deras arus sungai
Ditolak pasang balik ke hulu
Kayu tempinis dari kuala
Dibawa orang pergi Melaka
Berapa manis bernama nira
Simpan lama menjadi cuka
Disangka nenas di tengah padang
Rupanya urat jawi-jawi
Disangka panas hingga petang
Kiranya hujan tengah hari
·
Pantun Nasihat
- Pantun Nasihat
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Kemuning di tengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri
Parang ditetak ke batang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu
Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata
Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak di peti
Sembarang kerja boleh menjadi
Jalan-jalan ke Kota Blitar
jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun
·
Pantun Percintaan
Coba-coba menanam mumbang
Moga-moga tumbuh kelapa
Coba-coba bertanam sayang
Moga-moga menjadi cinta
Jangan suka bermain tali
Kalau tak ingin terikat olehnya
Putus cinta jangan disesali
Pasti kan datang cinta yang lainnya
Limau purut lebat di pangkal
Sayang selasih condong uratnya
Angin ribut dapat ditangkal
Hati yang kasih apa obatnya
Ikan belanak hilir berenang
Burung dara membuat sarang
Makan tak enak tidur tak tenang
Hanya teringat dinda seorang
Anak kera di atas bukit
Dipanah oleh Indera Sakti
Dipandang muka senyum sedikit
Karena sama menaruh hati
Ikan sepat dimasak berlada
Kutunggu digulai anak seberang
Jika tak dapat di masa muda
Kutunggu sampai beranak seorang
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Kirim saya sehelai baju
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi ranting kayu.
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Belikan sahaya pisau lipat
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi benang pengikat
Kalau tuan mencari buah
Sahaya pun mencari pandan
Jikalau tuan menjadi nyawa
Sahaya pun menjadi badan.
- Pantun Peribahasa
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Ke hulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian
Kerat kerat kayu di ladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul
Harapkan untung menggamit
Kain di badan didedahkan
Harapkan guruh di langit
Air tempayan dicurahkan
Pohon pepaya di dalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan
·
Pantun Perpisahan
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Biar jauh di negeri satu
Hilang di mata di hati jangan
Bagaimana tidak dikenang
Pucuknya pauh selasih Jambi
Bagaimana tidak terkenang
Dagang yang jauh kekasih hati
Duhai selasih janganlah tinggi
Kalaupun tinggi berdaun jangan
Duhai kekasih janganlah pergi
Kalaupun pergi bertahun jangan
Batang selasih mainan budak
Berdaun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Bunga Cina bunga karangan
Tanamlah rapat tepi perigi
Adik di mana abang gerangan
Bilalah dapat bertemu lagi
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi
·
Pantun Teka Teki
Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk di hidung?
Beras ladang sulung tahun
Malam malam memasak nasi
Dalam batang ada daun
Dalam daun ada isi
Terendak bentan lalu dibeli
Untuk pakaian saya turun ke sawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala di bawah ?
Kalau tuan muda teruna
Pakai seluar dengan gayanya
Kalau tuan bijak laksana
Biji di luar apa buahnya
Tugal padi jangan bertangguh
Kunyit kebun siapa galinya
Kalau tuan cerdik sungguh
Langit tergantung mana talinya?
BAB IV SYAIR
![]() |
A.PENGERTIAN SYAIR
Syair adalah salah satu jenis puisi lama. Ia berasal dari Persia
(sekarang Iran) dan telah dibawa masuk ke Nusantara bersama-sama dengan
kedatangan Islam.
Kata Syair berasal dari bahasa Arab syu'ur yang
berarti perasaan. Kata syu'ur berkembang menjadi kata syi'ru yang berarti puisi
dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada
pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam perkembangan nya Syair tersebut mengalami perubahan dan
modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra Syair di negeri Arab.
Penyair yang berperan besar dalam membentuk Syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri
dengan karyanya, antara lain:
Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair
Dagang, dan Syair Sidang Fakir.
Ciri-ciri syair :
1.Setiap bait terdiri atas empat baris.
2.Setiap baris terdiri atas 8 sampai 14
suku kata.
3.Semua baris merupakan isi.
4.Syair bersajak aaaa.
5.Setiap bait syair tidak dapat berdiri
sendiri.
6.Biasanya, setiap baris terdiri atas
empat kata.
B.JENIS-JENIS
SYAIR
Menurut isinya, Syair dapat dibagi menjadi lima golongan,
sebagai berikut.
1. Syair Panji
Syair panji
menceritakan tentang keadaan yang terjadi dalam istana
dan keadaan orang-orang yang berada atau
berasal dari dalam istana.
Contoh Syair panji adalah Syair Ken Tambuhan yang menceritakan tentang
seorang putri bernama Ken Tambuhan yang
dijadikan persembahan kepada
Sang Ratu Kauripan.
2. Syair Romantis
Syair romantis berisi tentang percintaan yang
biasanya terdapat pada cerita pelipur lara, hikayat, maupun cerita rakyat.
Contoh Syair romantis yakni Syair Bidasari yang menceritakan tentang
seorang putri raja yang telah dibuang ibunya. Setelah
beberapa lama ia dicari Putra Bangsawan (saudaranya) untuk bertemu
dengan ibunya. Pertemuan pun terjadi dan akhirnya Bidasari memaafkan
ibunya, yang telah membuang dirinya.
3. Syair Kiasan
Syair kiasan berisi tentang percintaan ikan, burung,
bunga atau buah buahan. Percintaan tersebut merupakan kiasan atau
sindiran terhadap peristiwa tertentu.
Contoh Syair kiasan adalah Syair Burung Pungguk yang isinya menceritaka n tentang percintaan yang gagal akibat
perbedaan pangkat, atau seperti perumpamaan
"seperti pungguk merindukan bulan".
4. Syair Sejarah
Syair sejarah adalah Syair yang berdasarkan peristiwa sejarah. Sebagian besar Syair sejarah berisi tentang
peperangan.
Contoh Syair sejarah adalah Syair Perang Mengkasar (dahulu bernama Syair Sipelman), berisi tentang perang antara
orang-orang Makasar dengan Belanda.
5. Syair Agama
Syair agama merupakan Syair terpenting. Syair agama dibagi menjadi Empat yaitu:
(a) Syair sufi
(b) Syair tentang ajaran Islam
(c) Syair riwayat cerita nabi
(d) Syair nasihat.
Perlu di ketahui, setiap Syair pasti mengandung pesan tertentu.
Pesan tersebut dapat di simpulkan setelah memahami isi sebuah Syair.
Contoh-Contoh Syair :
·
Contoh
Syair Kehidupan
Dunia ini sudah
tua
jangan sampai
kita ikut celaka
mari kita
tingkatkan taqwa
kepada Tuhan
yang Maha Esa
Allah tempat
kita bergantung
agar kita selalu
beruntung
jangan sampai
kita terpasung
jangan bimbang
dan jangan pula bingung
hanya Allah yang
selalu di hati
tempat kita
untuk berbakti
bermunazat dan
bersaksi
sampai akhir
kiamat nanti
mari kita
perbanyak dzikir
kepada Allah
yang Maha Basir
agar kita selalu
berpikir
dijauhkan dari
sifat kikir
semua manusia
kan pasti mati
baik petani
ataupun menteri
mari kita
bercermin diri
agar kita tak
sampai merugi
hidup ini hanya
sementara
semua makhluk
kan pasti binasa
jangan sampai
kita tergoda
oleh tipu daya
dunia
dunia ini sudah
akhir
jangan sampai
kita tergelincir
mari kita terus
berdzikir
bersama syekh Abdul Qodir (Syekh Abdul
Qodir al-Jaelani)
·
Contoh
Syair Pendidikan
Tersusun indah pustaka ini
Tertata rapi buku-buku penuh maknawi
Isi hari dengan
berkunjung kesini
Pustaka terbaik
di negeri ini
Sejuk nyaman
membaca buku
Perpustakaan
Soeman Hs gudang ilmu
Seringlah kesana
agar dirimu mampu
Membuka semua
cakrawala dalam hidupmu
Hatimu resah
jangan dibawah gundah
Duduklah sejenak
di perpustakaan wilayah
Bekali diri
dengan ilmu bermarwah
Kuatkan
keterampilan agar terarah
Perpustakaan ini
anugerah negeri
Tak pantas jika
tak pernah diisi
Ajak semua teman
agar menghampiri
Itulah tabiat
mulia generasi masa kini
Zaman sekarang
persaingan ketat
Tak kuat
bersaing bisa melarat
Agar dirimu bisa
mampu dan kuat
Perpustakaan
bisa menjadi obat
Tak ada didunia
ini orang yang bodoh
Kuatkan ilmu
agar tetap kokoh
Mulai dengan
membaca tokoh-tokoh
Dirimu kelak tak
kan mudah roboh
Jangan pernah
berputus asa
Semua pasti ada
jalannya
Asal niat mu ada
didada
Semua cita-cita bisa terlaksana
·
Contoh
Syair Melayu Lama
Lalulah berjalan Ken Tambuhan
diiringkah penglipur dengan tadahan
lemah lembut
berjalan pelahan-lahan
lakunya manis
memberi kasihan
Tunduk menangis
segala puteri
Masing-masing
berkata sama sendiri
Jahatnya
perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri
·
Syair
Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul Hamid Syah
Paduka Sultan
Duduklah Baginda
bersuka-sukaan
Abdul Muluk
putera Baginda
Besarlah sudah
bangsa muda
Cantik menjelis
usulnya syahda
Tiga belas tahun
umurnya ada
Parasnya elok
amat sempurna
Petak majelis
bijak laksana
Memberi hati
bimbang gulana
Kasih kepadanya
mulia dan hina.
DAFTAR PUSTAKA
Pengertian Gurindam dan Puisi. file:///D:/Sejarah/Mengenal%20Pengertian%20Gurindam%20-%20Puisi%20-%20CARApedia.html
Pengertian
Syair, Ciri-ciri & jenis-jenis Syair. file:///D:/Sejarah/Pengertian%20Syair%20dan%20jenis-jenis%20Syair%20~%20Nawwaf.%20Com.html
Puisi. file:///D:/Pengertian,%20CiriCiri,%20dan%20Unsur%20Intrinsik%20Puisi%20-%20Taufan%20Prihantoro.htm
Pantun.
https://drive.google.com/file/d/0BwvBTgi_KPJvZTlIUUtSRFQxVEk/view?usp=sharing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar